pshttuban.com – Di sebuah malam yang lengang di Desa Pucangan, cahaya lampu Padepokan Persaudaraan Setia Hati Terate (SH Terate) Rayon Pucangan, Ranting Montong, Cabang Tuban, Pusat Madiun tampak tetap menyala. Dari halaman terdengar suara obrolan warga yang datang silih berganti. Ada yang melangkah pelan sambil menahan nyeri punggung, ada pula yang sekadar menemani. Di dalam padepokan, aroma minyak terapi menguar, menghadirkan suasana khas pengobatan tradisional.
Di tempat inilah, setiap Sabtu dan Selasa malam, para pendekar SH Terate Rayon Pucangan membuka layanan pijat totok punggung gratis bagi siapa saja. Tidak ada tarif, tidak ada kotak amal, hanya niat tulus untuk membantu sesama.
Dari Latihan Rutin Menjadi Pengabdian
Pada awalnya, malam latihan di padepokan hanya diisi dengan latihan jurus, olah pernapasan, dan evaluasi teknik. Namun dalam beberapa bulan terakhir, suasana tersebut berkembang. Di salah satu sudut ruangan, para pendekar yang tergabung dalam paguyuban Terapis Terate Montong (TTM) menggelar matras dan menyiapkan peralatan sederhana berupa minyak terapi, handuk kecil, dan pencahayaan seadanya.
Koordinator Rayon Pucangan, Mas Warsono, menuturkan bahwa kegiatan ini berawal dari spontanitas. “Suatu malam latihan ada warga yang datang meminta tolong karena punggungnya sakit setelah bekerja di sawah. Setelah ditotok, kondisinya jauh lebih baik. Keesokan harinya ia datang lagi membawa tetangganya,” kenangnya.
Dari peristiwa tersebut, gagasan untuk membuka layanan terapi secara rutin pun lahir.
Antusiasme Warga di Luar Dugaan
Malam pertama layanan dibuka secara resmi menjadi pengalaman berkesan. Jumlah warga yang datang melebihi perkiraan para pendekar. “Bahkan setelah sesi ditutup, masih ada warga yang ingin diterapi. Dari situ kami sadar bahwa kebutuhan masyarakat memang besar,” ujar Warsono yang juga pelatih di Ranting Montong.
Warga yang datang berasal dari beragam latar belakang, mulai dari petani, buruh, hingga ibu rumah tangga. Bagi mereka, terapi ini bukan sekadar pengobatan fisik, tetapi juga ruang untuk didengar dan diperhatikan.
Terapi, Syukur, dan Rasa Berguna
Bagi warga SH Terate Rayon Pucangan, praktik totok punggung tidak sekadar keterampilan teknis. Di dalamnya terkandung nilai pengabdian sebagaimana ajaran SH Terate, bahwa seorang pendekar tidak hanya ditempa untuk kuat secara fisik, tetapi juga hadir memberi manfaat bagi lingkungan.
“Alhamdulillah, banyak warga yang keluhannya berkurang dan bisa kembali beraktivitas dengan nyaman. Kami bersyukur bisa menjadi perantara kebaikan. Ini bentuk bakti kami kepada masyarakat,” tutur Warsono.
Tak jarang, setelah terapi, warga duduk sejenak untuk berbincang dari hati ke hati. Padepokan pun bertransformasi menjadi ruang sosial yang hangat dan penuh empati.
Meneruskan Pesan Pendiri
Dalam perbincangan tersebut, Mas Warsono juga menyebut nama almarhum Kangmas Ahmad Usdianto, pendiri dan sesepuh SH Terate. Menurutnya, almarhum selalu menekankan bahwa padepokan harus menjadi tempat yang bermanfaat dan kembali kepada masyarakat.
“Dengan kegiatan positif ini, kami merasa sedang menjalankan cita-cita beliau, menjadikan padepokan bukan hanya tempat berlatih jurus, tetapi juga ruang pengabdian,” ujarnya.
Padepokan yang Semakin Hidup
Kini, setiap malam latihan, Padepokan SH Terate Rayon Pucangan terasa semakin hidup. Anak-anak berlatih, para pendekar berdiskusi, sementara di sudut ruangan masyarakat mendapatkan terapi. Semua berjalan berdampingan dalam suasana sederhana dan tanpa pamrih.
Di bawah cahaya lampu temaram dan kehangatan kebersamaan, satu hal menjadi nyata: bakti tidak selalu hadir dalam bentuk besar. Kadang ia menjelma dalam sentuhan sederhana yang meredakan sakit dan perhatian kecil yang menguatkan hati. SH Terate Rayon Pucangan telah membuktikan bahwa pengabdian adalah jurus paling luhur yang diwariskan.(Ahmad Amin/Humas Ranting Montong)





