pshttuban.com – Semangat persaudaraan dan gotong royong kembali ditunjukkan keluarga besar Persaudaraan Setia Hati Terate Rayon Mentoro, Ranting Soko, Cabang Tuban, Pusat Madiun bersama warga Dusun Singkil, Dukuh Karangkali, melalui kegiatan bakti sosial berupa kerja bakti lingkungan dalam rangka menyambut Haul dan Sedekah Bumi Mbah Abdurrohim (Pangeran Pringgodani), yang InsyaAllah akan dilaksanakan pada 1–2 Juni 2026.
Kegiatan yang berlangsung penuh kebersamaan tersebut dipimpin Ketua Rayon Mentoro, Mas Bahrul Fuad, didampingi pelatih Mas Rama, serta diikuti warga dan keluarga besar Persaudaraan Setia Hati Terate Rayon Mentoro Ranting Soko Pusat Madiun.
Sejak pagi hari, para peserta bahu-membahu membersihkan lingkungan, merapikan akses jalan, serta menyiapkan lokasi yang akan digunakan dalam rangkaian kegiatan haul dan sedekah bumi. Kebersamaan yang terjalin menjadi cerminan nyata nilai-nilai luhur persaudaraan yang senantiasa dijaga dan diwariskan dari generasi ke generasi.
Bagi masyarakat Karangkali, Haul dan Sedekah Bumi Mbah Abdurrohim merupakan momentum sakral untuk mengenang jasa para leluhur sekaligus memanjatkan rasa syukur kepada Allah SWT atas limpahan rahmat, keselamatan, dan keberkahan yang diberikan kepada masyarakat.
Kordinator Rayon Mentoro, Mas Bahrul Fuad, menyampaikan harapannya agar kegiatan tersebut membawa manfaat dan keberkahan bagi seluruh pihak yang terlibat.
“Semoga kerja bakti yang telah dilaksanakan ini menjadi amal kebaikan, membawa keberkahan bagi Rayon Mentoro, Ranting Soko, Pusat Madiun dan seluruh masyarakat. Semoga persaudaraan tetap terjaga, dulur-dulur selalu guyub, rukun, kompak, serta terus hadir dalam kegiatan sosial yang bermanfaat bagi lingkungan,” ujarnya.
Melalui kegiatan ini, Persaudaraan Setia Hati Terate Rayon Mentoro Ranting Soko, Pusat Madiun kembali menunjukkan bahwa nilai persaudaraan tidak hanya diwujudkan dalam ikatan organisasi, melainkan juga dalam pengabdian nyata kepada masyarakat, pelestarian budaya, serta penghormatan terhadap warisan para leluhur.
Di tengah semilir angin Karangkali, langkah-langkah sederhana dalam kerja bakti itu seakan menjadi bahasa kebersamaan yang tak terucap; merawat bumi, menghormati leluhur, dan menguatkan persaudaraan demi masa depan yang penuh keberkahan.(Mursid/Humas SH Terate Ranting Soko)





